Bicara tentang perkembangan peta, citra satelit di dunia maya maka tidak ada salahnya jika kita melihat kedua "Maps" dunia maya yakni Google Maps dan Bing Maps. Google Maps keluaran dari Google sang penguasa search engine, sedangkan Bing Maps merupakan produk dari Microsoft sang penguasa Office.
Ada beberapa lokasi yang ada tutupan awannya di Google Maps atau Google Earth, akantetapi bila kita membuka melalui Bing Maps, lokasi tersebut bersih alias tidak tertutup oleh awan. Apakah karena beda sumber data citra satelitnya atau beda tanggal perekaman citra satelitnya? Silahkan Anda coba akses sendiri di kedua situs peta tersebut dan carilah lokasi yang sama dengan kondisi yang berbeda.
Berikut sampel lokasi yang telah ditangkap oleh penulis :
Gambar1. Sebagian Citra daerah Kota Solo, tampak ada tutupan awan di sebelah kiri atau barat Alun-alun (Sumber : Google Maps)
Gambar1. Sebagian Citra daerah Kota Solo,tidak ada tutupan awan di sebelah kiri atau barat Alun-alun (Sumber : Bing Maps)
Keduanya, silahkan teman-teman cermati. Apakah ada perbedaan sumber data citra atau kah perbedaan waktu perekaman citra jika keduanya mengambil dari sumber citra satelit penginderaan jauh yang sama?
Blog baru ini bertitel GeoSpatialInfo, sehiongga kelak diharapkan berbagi informasi terkait dunia spatial kebumian akan dapat disampaikan di dalam blog ini.
Isi perdana yang ada di blog ini merupakan hasil import dari blog sebelumnya yang telah tertulis. Berhubung blog yang sebelumnya tidak bisa diakses via komputer di laboratorium, entah kenapa. Sehingga salah satu cara agar isi yang ada tetap bisa diakses oleh para pembaca maka import export blog jadi solusinya.
Pemodelan data geospasial sangatlah terbantu dengan menggunakan Model Builder di dalam software GIS keluaran dari ESRI. Baik dari saat menggunakan ArcView GIS versi 3.x maupun kini saat menggunakan ArcGIS versi 9.x (kini sudah keluar versi 10).
Contoh yang sederhana: kita dapat melakukan tumpang susun beberapa layer data (hujan, lereng dan tanah) dengan menggunakan tools intersect yang bisa di-drag ke dalam model builder dan di running, sehingga menghasilkan output berupa layer hasil overlay. Hasil overlay ini masih memerlukan tahapan calculate skor total dan query atribut untuk memilih dan menentukan kelas arahan fungsi pemanfaatan lahannya. Selanjutnya kita dapat melakukan drag tools : dissolve untuk menyederhanakan hasil polygon tersebut.
Lebih lanjutnya, silahkan explorasikan diri Anda dengan toolboxes yang ada dan buatlah tools-tools otomasi baru untuk pemodelan yang Anda inginkan.
Download and Save Google Earh Images using ELshayal Smart GIS
Start on question, how to download images from Google Earth and how to rectify?
Then we can found in ELshayal; there is a FREE version 4.35 New Features.
1. Download and save Google Earth Images as rectified images with world file format .jgw 2. Save the output layout images as rectified Images. 3. Open and Convert NASA (ASTER & SRTM) DEM to Tin shape file
ArcGIS Data Interoperability di ArcGIS 9.2/ArcGIS 9.3
Ekstensi ArcGIS Data Interoperability menyediakan akses langsung ke lusinan format data spasial, termasuk GML profil, DWG / DXF file, Microstation ® Desain file, MapInfo MID / MIF file, dan jenis file TAB. Pengguna dapat drag dan drop ini dan banyak sumber data eksternal lainnya ke ArcGIS untuk langsung digunakan dalam pemetaan, geoprocessing, manajemen metadata, dan penggunaan 3D globe. Sebagai contoh, Anda dapat memanfaatkan semua fungsi pemetaan yang tersedia bagi data asli dalam format ESRI ArcMap untuk sumber-sumber data ini - seperti melihat fitur dan atribut, mengidentifikasi fitur, dan membuat pilihan.
Ekstensi ArcGIS Data Interoperability dikembangkan dan dipelihara bersama-sama oleh ESRI dan Safe Software Inc, vendor interoperability GIS terkemuka, dan didasarkan pada Software populer produk Safe yakni Feature Manipulastion Engine (FME ®).
Ekstensi ArcGIS Data Interoperability ini juga termasuk FME Workbench yang berisi serangkaian tool/alat transformasi data untuk membangun converter untuk banyak format data vektor.
Dengan ekstensi Interoperabilitas Data ArcGIS, pengguna dapat:
ØMenambahkan dukungan untuk banyak format data GIS untuk penggunaan secara langsung dalam ArcGIS, misalnya, untuk digunakan di ArcMap, ArcCatalog, dan geoprocessing.
ØHubungkan ke dan membaca berbagai format GIS umum-misalnya, TAB, MIF, E00, dan GML-serta banyak koneksi database
ØMendefinisikan kompleks, data semantik penerjemah menggunakan Workbench FME
ØMemanipulasi dan menggabungkan banyak atribut tabel data dari berbagai format dan DBMS's dengan fitur
ØEkspor kelas untuk setiap fitur yang lebih dari 50 output format-misalnya, ekspor ke GML-dan menciptakan penerjemah lanjutan untuk kustomisasi output format.
Menggunakan ArcGIS Data Interoperability Extension menambahkan dukungan untuk beragam format data GIS tambahan dan juga menyediakan FME Workbench yang memungkinkan Anda untuk menentukan format tambahan yang dapat digunakan untuk secara langsung mengakses dan menggunakan data dalam ArcGIS.
Latihan 1. Kita bisa melihat atau membaca secara langsung data interoperability
Silahkan jalankan ArcCatalog, dan carilah file dengan format *.mif pada data yang Anda miliki atau dari data ArcTutor. Klik tab Preview pada ArcCatalog untuk melihat data format *.mif ataupun format lainnya (dwg, dxf, dan lain-lain).
Latihan 2. Koneksi Interoperability
Pada Catalog Tree pilihlah Interoperability Connection maka akan muncul kotak dialog, silahkan pilih format dan dataset serta atur setting kemudian tentukan sistem koordinatnya. Setelah itu klik OK, maka pada Interoperability Connection akan muncul Connection untuk data tersebut.
Latihan 3. Silahkan drag atau buka data Latihan 1 dan Latihan 2 di ArcMap
Latihan 4. Translating Data Using Quick Import dan Quick Export
Pergunakan ArcToolbox - red bag - tas merah untuk memunculkan tools Data Interoperability : ada Quick Export dan Quick Import.
Latihan 5. Quick Import dan Quick Export di Model Builder
Kita dapat drag tools QI dan QE tersebut ke dalam Model Builder yang kita buat.
Gambar. Quick Import di dalam Model Builder
Sumber : Tutorial ArcGIS from ESRI dan Pelatihan SIG Tingkat Lanjut
Survei dengan Global Positioning System demikian judul yang termuat dalam sebuah buku textbook digital yang dipublish di Komunitas GIS oleh PT. Geovisi Mitratama.
Rangkaian buku dalam format gif yang bisa diunduh di dalam mailing list Komunitas GIS.
Berikut cuplikan isi dari Pengantar dalam Ebook mengenai GPS tersebut:
Global Positioning System merupakan alat untuk menentukan posisi dalam suatu system koordinat tertentu. Pertama system ini dikembangkan oleh Amerika untuk meletakkan sekian puluh satelit menyebar di angkasa bumi dalam suatu systm konstelasi satelit.
Dalam buku tersebut merupakan pelatihan penggunaan GPS dengan tipe Garmin seri III/V, yang dibagi di dalamnya ialah teknis penggunaan GPS yang meliputi: 1. Pengenalan layer satelit dan syarat minimum satelit 2. Perolehan koordinat 3. Setting datum dan system koordinat 4. Tracking menggunakan gps track-log 5. Menyimpan data, menamai data, menampilkan data 6. Mengimpor data dengan menggunakan software gps MapSource, mengubah data ke dalam format data spasial yang lain.
Berikut cuplikan gambar gif dari modul atau tutorial penggunaan GPS tersebut: Komunitas GIS ialah Komunitas atau Group ini diperuntukkan bagi rekan-rekan yang akan, sedang, atau pernah belajar bersama mengenai Sistem Informasi Geografis bersama dengan Geovisi Mitratama.
Silahkan bergabung ke dalam mailinglist/google group Geovisi untuk berbagi bersama dan saling berdiskusi mengenai persepsi dan konsep SIG (sistem informasi geografis) di http://groups.google.com/group/komunitas-gis -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Salam Hormat,
Aji Putra Perdana Life is too short...Learn to more Ikhlas in my life...
ESRI, 1990, mendefinisikan SIG sebagai suatu kumpulan yang terorganisir dari perangkat keras komputer, perangkat lunak, data geografi dan personil yang dirancang secara efisien untuk memperoleh, menyimpan, mengupdate, memanipulasi, menganalisis, dan menampilkan semua bentuk informasi yang bereferensi geografi.
Spatial Adjustment merupakan salah satu fasilitas dalam software ArcGIS 9.x. ArcGIS dalam Spatial Adjustment menyediakan tiga tipe transformasi yaitu: affine, similarity, dan projective.
Transformasi affine dapat melakukan differential scaling, skew, rotation, dan translation pada data. Transformasi affine memerlukan minimal 3 displacement links.
Transformasi similarity menskalakan, merotasi, dan mentranslasi data tetap mempertahankan aspek rasio dari feature yang ditransformasikan. Transformasi similarity memerlukan minimal 2 displacement links.
Transformasi projective berdasarkan pada formula yang lebih kompleks yang memerlukan minimal 4 displacement links: x’ = (Ax + By + C) / (Gx + Hy + 1) y’ = (Dx + Ey + F) / (Gx + Hy + 1) Metode ini digunakan untuk transformasi data yang diperoleh langsung dari aerial photography.
Selain metode tranformasi di atas, tersedia juga metode adjustment lainnya yakni rubbersheet dan edgesnap.
Rubber sheeting Distorsi geometrik pada umumnya menimpa source maps. Dapat disebabkan karena ketidaksempurnaan dalam registrasi, kurangnya kontrol geodetik pada sumber data, atau sebab-sebab lainnya. Rubber sheeting mengkoreksi kesalahan koordinat dengan geometric adjustment.
Edgematching Proses edgematching mengatur features sepanjang edge dari satu layer ke features dari layer adjoin. Layer yang kurang akurat di-adjust, dan layer lainnya sebagai kontrol.
Ada fasilitas lagi terkait dengan atribut dari data yang di-adjust...
Attribute transfer Attribute transfer biasanya digunakan untuk meng-copy attribut dari layer yang kurang akurat atau detail ke yang lebih akurat. Misalnya, digunakan untuk transfer nama feature hidrologi dari peta hasil digitasi dan generalisasi skala 1:500,000 ke peta skala 1:24,000. Dalam ArcMap, kita dapat menentukan atribut yang ingin ditransfer antar layer secara interaktif dengan memilih feature source dan target.